“Yok shalat, biar kita masuk surga”, kalimat itu sering kali terdengar ketika azan berkumandang dengan riuhnya di udara kota ini. Tumpang tindih antara mesjid satu dan lainnya yang bahkan berjarak hanya beberapa ratus meter.
Jawabanku selalu standar, “titip salam aja ama imamnya”, “niatkan lebih aja untukku”, sampai jawaban paling singkat “malas”.
Namun teriknya siang ini rupanya tak membuat si penanya berlalu seperti biasanya. “Kok tumben?”, tanyaku sambil meneguk segelas air tebu dingin yang di jual di pinggir lapangan Blang Padang, sebuah pusat kegiatan olah raga di kota Banda Aceh.
“Panas”, jawabnya pendek. “Bukannya lebih panas api neraka?”, aku mulai menyindirnya. Ia selalu mengatakan kalau api neraka itu lebih panas daripada api di bumi jika aku gak mengikutinya melangkahkan kaki ke bangunan besar tapi tak berpenghuni yang biasanya disebut mesjid. “Tuhan juga maklum ya kalo sekali – sekali kita bolos”, sindirku lagi.
“Jangan ngejek, eh emangnya kenapa kee malas kalo kuajak shalat berjamaah di mesjid? Bukannya pahalanya bisa berpuluh kali lipat daripada shalat sendirian?”.
“Halah…panas gini kok omongin itu”, “cmon give you’re reason“
Kuperbaiki dudukku, “Jawab dulu pertanyaanku ini, apa fungsi imam di dalam shalat?”
“Dia itu pemimpin shalat, ibaratnya bus dia adalah supir yang mengantarkan penumpangnya ke tujuan”
“Kalau dia supir pasti tahu dan mengerti semua rintangan yang akan dia hadapi selama dalam perjalanan kan? Semua tikungan, pos pemeriksaan polisi, lokasi SPBU dan tempat berhenti makan tentu dia sudah paham. Dia juga mengetahui posisi tujuannya itu ada dimana. Pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab, apakah si imam sudah paham mengenai semua rintangan perjalanan dari tempatnya berdiri sampai ke hadirat ALLAH? Apakah dia memiliki kuasa untuk menjadi penunjuk jalan seperti Jibril menjadi guide bagi Nabi ketika Isra’ Mi’raj? Dan yang lebih penting lagi apakah dia mengetahui ujung perjalanannya ada dimana?
Ketika seorang muslim mengatakan ku hadapkan wajahku kepada wajah NYA zat pencipta langit dan bumi, yang manakah wajah si pencipta? Kee selalu bilang shalat itu supaya kita bisa masuk ke surga, tapi gimana mau masuk ke surga kalo supir yang kita tumpangi justru sama sekali gak tau jalan ke surga? Gimana kee bisa percaya sama supir yang sama sekali gak tau jalan, bukannya selamat malah jadi tamat.”
Kulirik cara duduk si teman yang sudah kelihatan mulai memperhatikan seabrek pertanyaanku tadi.
“Mungkin sebaiknya kita lupakan urusan surga dan neraka ini ketika kita akan berhadapan dengan ALLAH”, lanjutku “yang terpenting bukan bagaimana kita akan masuk ke dalam surga atau lari dari neraka. Yang terpenting adalah bagaimana mendapatkan ridha NYA, karena dengan ridha NYA surga bisa menjadi panas sebaliknya neraka bisa menjadi dingin. Seandainya surga itu gak ada, mungkin teroris yang sibuk ngebom itu gak bakalan ada. Gak akan ada persaingan untuk menjadi imam mesjid. Semuanya rukun.”
Aku bangun dan kubayar minumanku.