“Damn…kota ini kayaknya udah gila”, batinku seraya mengelap keringat yang bercucuran. Penampilanku sudah seperti orang yang baru keluar dari kolam renang dengan pakaian lengkap. Basah dan lengket dengan keringat. Perlahan aku duduk di trotoar di bawah pohon yang ada di sudut Masjid Raya Baiturrahman untuk melepas penat.
Suara azan menggema dari pengeras suara, perlahan kulihat orang-orang mulai berkumpul dan mengambil wudhu. Dengan malas karena masih terbebani penat kuikuti orang-orang yang ingin menjumpai tuhannya.
Muazzin mulai menggemakan iqamat dan barisan shaf mulai diatur secara rapi. Kuambil shaf yang agak dibelakang. Aku nggak ingin terjebak ketika aku mendadak ingin keluar cepat setelah imam mengucapkan salam penutup kelak.
Takbir mulai dikumandangkan, kulihat orang-orang serempak mengangkat tangan mereka.
Sunyi…hanya suara kendaraan di luar sana yang terdengar. Eh tapi sepertinya ada sesuatu di atas kepala orang di depanku. Kupicingkan mataku untuk melihat lebih jelas bayangan samar yang ada di kepalanya, perhatianku kini sepenuhnya ke atas kepala orang yang ada di depanku. Tubuhku kini hanya bergerak secara otomatis mengikuti perintah imam yang berdiri paling depan.
Gambaran di atas kepala tersebut mulai terlihat lebih jelas. Itu adalah sesosok wanita cantik berjilbab dan berbaju ketat, ia berjalan di depan sebuah toko pakaian dan si pemilik kepala terlihat menatap si wanita tanpa kedip.
“He he he…mulut aja bilang gak mau, padahal hati udah kepingin”, batinku di sela-sela membaca ayat pendek.
Kulihat sekelilingku. Selain si cewek, di atas kepala para makmum juga terlihat gambaran perkalian rumit, sepertinya itu adalah kalkulasi dagangan yang sedang dihitung si makmum. Beranjak ke sebelahnya kulihat anak kecil dengan seragam SD yang agak lusuh menadahkan tangannya kepada si Bapak, mungkin ia meminta uang untuk membayar biaya sekolahnya yang gak murah saat ini.
Makin penasaran, kupanjangkan leherku layaknya jerapah dan kulihat ke atas kepala Pak Imam. Aku berharap tak menemukan apa-apa di sana sebagai bukti ia berkonsentrasi membawa kami ke hadirat tuhan. Tapi yang kuharapkan berbanding terbalik dengan kenyataan. Kulihat selain bernuansa gelap, bayangan di atas kepala Pak Imam sungguhlah rumit. Anak yang meminta uang sekolah, bisnis yang kurang lancar, istri yang meminta diadakan kenduri sementara uang belanja pas-pasan.
Aku lantas teringat satu riwayat yang menyatakan: “apa yang hadir dalam shalatmu itulah tuhanmu”. Jadi kemana kami dibawa oleh sang imam kali ini?
Entahlah, aku hanya berharap bisa segera menyelesaikan makmuman ini dan angkat kaki dari mesjid ini. Aku udah gak betah berlama-lama di sini.